Friday, November 13, 2009

after all...


pernah terpikir tdk,utk menelaah atau mencoba berempati setidaknya berusaha menyelami perasaan org lain?pernah berpikir sedikit lebih lama sblm mengucapkan atau mengungkapkan sesuatu dan memahami apa yg akan terjadi dgn segala konsekuensinya setelah semua terucapkan atau terungkapkan?sepertinya utk sebagian org itu merupakan hal yg masih dianggap remeh sehingga dgn santainya lalu serta merta 'membeberkan' dgn gamblang apapun itu yg ada dipikiran mereka tanpa berpikir lebih lama.

mulutmu harimaumu,jgn mencubit kalo tdk mau dicubit,kuman diseberang lautan tampak gajah dipelupuk mata tdk tampak,diam itu emas.tanpa diartikan satu persatu,saya pikir akan dapat dimengerti dgn jelas apa maksudnya.ini yg terjadi pd seorg teman saya yg mencoba mengingatkan seorg teman lainnya dlm hal berkomunikasi.diera yg canggih seperti sekarang ini sepertinya alat2 komunikasi yg ada memang sangat membantu utk mempermudah komunikasi satu sama lain tanpa terhalang oleh jarak.tp apa lacur kalau ternyata yg terjadi adalah hal yg sebaliknya,dimana alat2 ini malah mempersulit komunikasi diantara org2 yg bertempat tinggal dgn jarak tak lebih dari beratus2 jengkal saja.

maksud hati mengingatkan secara tersirat malah mengumumkan pada publik umum termasuk yg tak berkepentingan utk ikut menengok sejauh mana pikiran seseorg terluahkan di alat/forum itu.padahal hanya dgn sebuah pesan singkat,berbicara lsg lewat telp dan empat mata sudah mencukupi.sehingga pihak2 yg tak perlu terlibat tdk akan repot2 membaca sedalam apa dia berpikir.dan saat ada reaksi timbal balik yg didapat dari opininya yg dilakukan hanyalah mengumbar lebih bnyk lg kata2 yg menelanjangi kepribadiannya sendiri dgn emosi yg membuncah dan berapi2 seakan siap menghadapi petumpahan darah diarena perang,padahal bila dia dpt berpikir lebih lama dgn hati yg lebih lapang,itu hanyalah sekedar opini balik dgn maksud dan kata2 yg jujur tanpa ada mksd melukai harga dirinya.

tapi ya namanya manusia, kedewasaan sungguh tidak bisa dilihat dari umur,jenis kelamin dan jg tingkat pendidikan.kadang penerimaan seseorg jg berbeda2 dlm menanggapi suatu masalah.skrg yg jd masalahnya adalah bila dlm berargumen ada kalanya beberapa org berpandangan sempit seperti kuda delman yg ditutup penglihatannya diarah samping sehingga tak mampu menoleh dan hanya memandang lurus,dgn klaim saya ya saya,yg bener saya,peraturannya jelas dipihak saya dan kamu yg salah kamu hrs setuju dgn apapun yg saya katakan dan sy tidak mau dengar kata2 kamu dgn congkaknya.sedang disisi lain ada org yg sedang asik jalan2 walau kantong kempes yg penting happy, dia bebas melihat apapun yg dia mau,dgn arahan bahwa klo mau berpikiran lebih terbuka niscaya org itupun tidak akan segan mendapati bahwa banyak ragam sifat,pendapat dan keinginan yg berbeda tiap orgnya.dan dgn senang hati dan lapang dada menerima kritikan dan masukan yg sekiranya positif demi perubahan yg lebih baik dan tidak menanggapi suatu masalah lsg dgn hati.

tidak ada satu dalilpun yg menerangkan didlm agama bahwa semakin lama kita mempelajari agama akan menjadi jaminan bahwa kita PASTI akan menjadi lebih baik dan menjadi lebih benar daripada org lain yg kurang rajin dibanding kita.tapi yg ada hanyalah apabila kita bisa memahami lebih baik,mengamalkan lebih baik,berpikir lebih positif niscaya hal2 seperti diatas bisa dihindari.dan tidak ada pula yg menerangkan bahwa yg jarang memperlihatkan diri dlm suatu acara keagamaan dpt dgn seenaknya diartikan bahwa dia telah menjadi org yg nista dan org2 sekitarnya seolah2 memiliki hak prerogatif utk menghakimi begitu saja.kalo seperti itu,sayang sekali,sangat picik.lantas apa gunanya apabila dia rajin kemesjid tapi berzina,mencuri,dan berbicara buruk ttg saudaranya sendiri.after all,alias bagaimanapun juga kita manusia,pasti punya salah dan kekurangan karena kesempurnaan hanya milik Allah.

No comments: