Tuesday, June 15, 2010

nasib cinderella


beberapa hari ini saya jadi ingat lagi pepatah 'gajah dipelupuk mata tidak terlihat,kuman diseberang lautan kelihatan'.saya yakin kebanyakan orang pernah mengenal dan mengerti makna yg tersirat dari pepatah tersebut.seperti hal yg terjadi pada salah seorang temanku yg hidupnya bagaikan sinetron.dia layaknya cinderella,menemukan 'prince charming 'yg baik hati,tapi sayang sang pangeran memiliki ibu tiri,sang ratu, yg jahat yg tak pernah kenal lelah ingin selalu mencelakakan dirinya.sebaik apapun usaha yg dilakukannya,tidak pernah cukup untuk memberi sang ratu sebuah kepuasan.

setelah melalui berbagai rintangan dan hujatan2 atas ketidaksepadanan antara mereka berdua secara 'status sosial' yg berbeda atas nama harta dan tahta,sang cinderella juga tidak pernah lepas dari fitnah2 dan gunjingan para pengagum fanatik sang pangeran.dia mencoba sabar dan tabah tanpa berusaha membalas apapun yg mereka katakan.meskipun semuanya itu sejujurnya membuatnya terluka dan menangis.saat sang pangeran berusaha menegakkan prinsip hidupnya dan menegaskan bahwa dia mungkin akan kehilangan segalanya,cinderella tak pernah mengeluh karena rasa sayangnya yg teramat besar pada sang pangeran.sekali lagi sayang seribu kali sayang, sang ratu tak pernah terkesan atas usaha apapun yg dilakukan sang anak,tetapi cenderung selalu menyalahkan dan bahwa cinderella telah membawa pengaruh buruk pada sang pangeran.

semua kebaikan yg diberikan tak pernah sedikitpun melelehkan gunung es dihati sang ratu,tetapi saat terjadi sesuatu yg buruk pada hidupnya dan sang pangeran, sang ratu sekali lagi hanya mendaratkan satu prasangka padanya seorang,dan tidak peduli bahwa takdir dari yg Maha Kuasa lah yg telah bertindak.

sepertinya tak pernah sedikitpun sang ratu berusaha menyelami perasaan org lain selain dirinya,jika melihat ketidakberesan disekitarnya maka dengan serta merta dicarilah seekor kambing hitam utk pelampiasan dan sumber penyebabnya. dia merasa tak ada org lain lagi yg lebih sempurna ketimbang dirinya sendiri.

No comments: