Wednesday, April 6, 2011

apa arti sebuah gelar?


Kemarin teman saya kesal sekali dengan seseorang.kenapa? karena katanya org tsb berbuat
kekeliruan yang sangat (maaf)bodoh.Memberikan nilai pada murid yang tidak pernah hadir dikelas ataupun menyerahkan tugas dan membuat murid lain(salah satunya temanku ini) yang rajin malah dianggap belum lulus bahkan ada yg sampai diberi nilai F(untung konotasinya bukan F-nya b.inggris itu loh).what on earth is happening here? are you kidding me?!katanya sembari tetap tidak bisa menyembunyikan raut kekecewaan diwajahnya.kemudian diapun melanjutkan ceritanya,Ini sungguh tidak adil dan sangat merugikan terutama bagiku dan teman2 yang lain. sungguh pegorbanan kami sangat tidak dihargai oleh org tsb lanjutnya.Walaupun pada akhirnya berhubung untuk sementara ini tidak dapat berbuat banyak,dia terpaksa menurut dengan mengerjakan tugas tambahan demi sebuah nilai walau hatinya sedikit tidak rela.

Orang yang dimaksud diatas(yang berlaku tidak adil) adalah seseorang dengan titel mentereng S2 yg sedang menjalani studi S3. Sangat meyakinkan dari segi pendidikan bukan? ini jadi mengingatkan saya pada pengalaman saya sewaktu iseng2 kursus sebuah bahasa gara2 keranjingan nonton kartun negeri Sakura.Ada seseorang yg sedang studi S3 dan berencana melakukan riset ke sebuah negara,maka dari itu,beliau belajar bahasa ditempat kursus tsb bersamaan dengan saya. Wah, saya jadi keder dong, secara saya cuma lulusan diploma dari sekolah antah berantah alias kecil dan tidak terkenal,sedang beliau studi S3 jurusan Kimia di sebuah universitas ternama dan berprofesi sebagai dosen disebuah propinsi di sumatera.tetapi setelah beberapa waktu berselang, level awal pun selesai dan semua peserta menghadapi ujian akhir termasuk
berbicara lsg dengan native speaker asli dari sono.Hasilnya? semua lulus kecuali beliau ini. Koq
bisa? ya bisa dan itu kenyataannya.

Ini jadi pertanyaan besar untuk saya dan selalu menjadi pertentangan didalam pikiran saya. Sedemikian arogan, angkuh dan merasa pintar sendiri dihadapan orang sekitarnya karena beratnya titel yang disandang, malah akhirnya jatuh sendiri terjerembab secara memalukan. Mungkin kasus teman saya diatas terbilang kasus yang kedua,dimana seorang pendidik gagal menunaikan kewajibannya seperti diawal cerita. Bagaimana bisa seorang dengan level pendidikan yang sedemikian tinggi bisa keliru menempatkan nilai sesuai kemampuan murid2nya sendiri? tidak cukupkah bertahun2 mengajar dijadikan tempaan utk memperbaiki diri dan tidak berbuat yg merugikan org lain.tidak mengutamakan perasaan pribadi tapi lebih ke profesionalismenya. Apalagi ditambah beliau tidak pernah menunaikan tugasnya sebagai pendidik dengan benar dan mengajarkan apa yg seharusnya diajarkan kepada muridnya.well, tapi sayangnya itu umum terjadi dimanapun, dimana ego mengalahkan segalanya termasuk untuk berbuat hal yg benar. dan kasus sekolah teman saya diatas yg katanya malah lazim terjadi di univ2 besar.OMG

Kasus lainnya ada teman'baik'saya yang juga S2, selalu merasa lebih tinggi disetiap obrolan kami, merasa lebih pintar dan menganggap org lain tidak 'sekelas dengan dia.tapi apa lacur, bahasa asing yg seharusnya dia kuasai dengan fasih, malah ancur2an. Sedang yang lain ada tetangga jauh yg anaknya S2 tapi menganggur dari sejak lulus, dan terpaksa menggunakan ijasah S1nya utk melamar kerja. Atau banyak S1 melamar jadi Adm yg bisa dikerjakan lulusan SMA karena susah cari kerja dan sebagian lain mencoba peruntungan melamar PNS walau kemungkinannya bagai unta masuk lubang jarum. Keponakan sayapun yg di SD dan SMP mengeluh karena guru mereka yg bertitel S1, malas2an dan tidak memperhatikan perkembangan studi murid2nya. Dan yang paling parah para anggota DPR tercinta yg rata2 S2-S3 yg berlakon seperti anak kecil manja. Bayangkan sejenak...apa jadinya.idealnya kan tidak seperti ini kan?

Sepertinya sudah terjadi salah kaprah dipola pikir masyarakat sekarang.yang lebih menghargai sebuah titel tanpa tahu isi kepala org tsb. sebuah gelar bukan berarti pembenaran utk meremehkan atau menganggap rendah orang lain.atau sebuah gelar hanya seperti kata jin dalam sebuah iklan, bisa aja, wani piro(berani berapa)?

saya mah utk sekarang jalani aja daripada pusing es-es an mau es teler aja ah eh eskrim magnum enak hehe.

No comments: