Tuesday, August 9, 2011

afterall part 2



Sebenarnya hal ini sudah cukup lama terpikirkan tapi tidak pernah dapat satu solusi logis untuk sebuah jawaban akhir yg tepat dalam mengantisipasinya.Agama mengajarkan bahwa semua manusia kedudukan dan derajatnya sama dimata Tuhan dalam hal keduniawian dan hanya berbeda dalam keimanan atau amal ibadah untuk pahala disisiNya.Tetapi pada kenyataannya semua itu terbalik, bahkan bagi orang2 yang mengklaim bahwa mereka adalah orang yang faham betul masalah agama, tahu mana yg benar mana yg salah, selalu berbuat baik alias beramal solih, dipandang baik oleh orang2,nyatanya tetap saja memperlakukan orang lain disekitarnya seperti ada kasta pembeda dan menganggap bodoh atau hina seolah2 ada kotoran yang menempel diwajah ditambah dengan borok yang ada disekujur tubuh sehingga mereka enggan melirik, bersalaman atau sekedar menyapa.mereka menganggap org yg 'lebih hina' tersebut sebagai 'invisible people' atau orang2 ghoib yang apabila lewat, sangatlah lumrah untuk diacuhkan semata2 hanya karena lebih miskin,lebih tidak berpendidikan,dll.Lalu, apabila melihat orang lain yang sekiranya sama 'level'nya dalam hal harta, kedudukan,status, bibit-bebet-bobot apalah itu, mereka dengan serta merta langsung menyanjung, bersikap ramah, dan mau bergaul atas nama teman sosialita sepadan. Pertanyaan pertama yang kemudian muncul adalah, jadi selama ini apa gunanya belajar agama, beribadah dan berbuat baik kalau perbuatannya sama sekali tidak mencerminkan hal tersebut?

Ada hal lain yg menarik, setelah kasus yg pertama diatas, saya teringat sebuah lagu, dimana salah satu liriknya ada kata2 seperti ini '..the coward talks the loudest'.. atau terjemah kasarnya ' pengecut biasanya berbicara paling nyaring'.ini sangat cocok berpasangan dengan istilah peribahasa 'silence is golden' atau diam itu emas.Kadang susah dicerna dipikiran, kenapa seseorang begitu penasaran dengan kehidupan pribadi atau urusan orang lain padahal itu bukan hak dan wewenangnya, malah lebih pantas bila lebih concern atau peduli pada urusan dan kehidupan pribadinya sendiri dengan banyak berintrospeksi. Entah karena saking ingin tahu, entah berbuat untuk kepentingan sendiri atau senang mengadu domba, orang2 yang usil ini akan berbicara banyak, dengan nada 'bijak' layaknya pembicara seminar atau penceramah handal seolah2 mereka si tahu segalanya, meski ujung2nya sampai berbau fitnah.Apa lacur, mereka ini orang yang merasa dirinya terhormat, lebih faham hukum agamanya dan berbekal beribu dalil disamping senang menunjukkan betapa banyak ibadah yg mereka jalani.Sedangkan orang yang mereka serang hanya diam tanpa mau menggelar konferensi pers ala seleb yg tidak penting hanya untuk mengklarifikasi hal yg sebenarnya,tanpa menggembar-gemborkan amal baik apapun yg mereka buat dan akhirnya membiarkan asumsi apapun berkembang, karena bagi mereka hanya Tuhan yang maha tahu apa yg sesungguhnya terjadi. Nah, pertanyaan kedua muncul, apa yang sebenarnya dipahami selama mereka beribadah apabila tidak pernah memahami dan menangkap esensi dari hikmah yg seharusnya mereka ambil dari ibadah2 tsb?

Haji/hajjah, ustadz/ustadzah, mubaligh/mubalighot, guru agama, ulama, semua gelar mulia keagamaan ini, bagi yang menyandangnya adalah suatu amanat mulia agar pribadi tersebut mencerminkan hal yang sudah seharusnya terpatri di dalam hati dan jiwanya.Akan lebih mulia bila bisa menjadi role model, contoh bagi orang disekitarnya dengan tidak melakukan hal yang terpapar diatas.tidak menghakimi, tidak berpikiran buruk, tidak menganggap remeh/rendah sesama umat, tidak merasa pintar dan benar sendiri dan tidak tinggi hati juga selalu berlapang dada.karena semua kesempurnaan hanya Milik Yang Diatas, bukan makhluknya yang memang ditakdirkan untuk kadang berbuat salah.

Maaf ini hanya sekedar tulisan untuk mengingatkan diri sendiri..

2 comments:

peot said...

"jika blm bs berbagi dgn harta berbagilah dgn kata" thx for ur share mam.. SUPER! :P

noodlemie (mia) said...

nuhun ya neng :)